Tambak garam adalah kolam buatan yang difungsikan untuk menghasilkan garam dari proses penguapan air laut atau air asin. Sistemnya, air laut dimasukkan ke tambak dan air dipisahkan dengan garam melalui penguapan dari sinar matahari, sehingga nanti akan menghasilkan kristal garam yang siap dipanen.

Dari mulai kepentingan untuk konsumsi rumah tangga ataupun kepentingan industri, garam banyak digunakan karena merupakan komoditas penting.

Kebutuhan garam di Indonesia terjadi kenaikan pada tahun 2020. Kini kebutuhan garam tersebut 4,5 juta ton yang sebelumnya berkisar antara 3 juta – 4,2 juta ton. Data tersebut berdasarkan dari Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi.

Beberapa sumber yang menghasilkan produksi garam adalah sungai air payau, sumber air dalam tanah, tambang garam, deposit dalam tanah, air danau asin, dan air laut.

Hingga perkembangannya sekarang, hasil produksi garam makin bervariasi tingkat kualitasnya dikarenakan banyak faktor, diantaranya lokasi lahan produksi tambak garam.

Kriteria Penentuan Lokasi Lahan Tambak Garam

tambak garam
alat pengukur kadar garam air tambak

Dalam memproduksi garam, penentuan posisi lahan tambak garam menjadi sangat penting. Dari hasil banyak penelitian diketahui jika untuk produksi garam akan baik jika lokasi tambak garam sesuai dengan 9 faktor berikut ini:

1. Jumlah Curah Hujan

Produksi garam akan berkualitas jika curah hujan dilokasi tambak intensitasnya rendah. Justru sebaliknya, akan berdampak negatif pada produksi garam jika curah hujan tinggi. Sehingga musim kemarau atau daerah yang suhu nya panas seperti madura contohnya, adalah lokasi strategis tambak garam berada. Daerah yang panas atau ketika musim kemarau tiba, hal itu akan mempengaruhi tingkat penguapan air pada tambak garam.

2. Permeabilitas Tanah

Tingkat porositas tanah bisa diukur parameternya melalui permeabilitas tanah, karena tingkat poros adalah faktor penting dalam menghasilkan produksi garam yang berkualitas. Tekstur tanah yang tidak mudah retak dan permeabilitas pada tanah rendah adalah salah satu kriteria lokasi untuk tambak garam berada.

3. Jenis Tanah.

Dalam potensi teknis, untuk hasil pengendapan yang sempurna dan ketersediaan air tua. Jenis tanah harus tidak porous. Sehingga wilayah pengembangan lahan tambak garam harus didasari potensi teknis tersebut.

4. Lama Penyinaran.

Untuk menghasilkan produksi garam yang berkualitas adalah proses lamanya penyinaran matahari. Hal ini juga yang mendorong laju evaporasi air. Proses alami radiasi surya dan bantuan rekayasa iklim buatan pada area pegaraman, maka evaporasi air prosesnya akan cepat tercapai dengan baik.

5. Kelembaban Udara dan Kecepatan Angin.

Produksi hasil garam tergantung pada kelembaban udara. Yang mana pengaruh kelembaban menghasilkan kecepatan penguapan pada garam. Jika penguapan makin besar maka hasil jumlah kristal yang mengendap akan besar pula.

6. Suhu Udara.

Suhu udara juga sangat berpengaruh pada kecepatan penguapan air pada tambak garam. Jumlah kristal garam yang mengendap tergantung juga penguapan, jika makin besar proses penguapan maka makin besar jumlah garam yang mengendap kristalnya.

7. Tingkat Penguapan.

Kristal garam yang dihasilkan pada dasarnya adalah proses pengoptimalan pada penguapan. Sehingga angin dan matahari adalah faktor utama yang mempengaruhi produksi garam.

8. Tingkat Kejenuhan Air Bahan Baku Garam.

Produksi garam membutuhkan waktu yang lama, ini berdasarkan pada tingkat kejenuhan air pada bahan baku garam. Sehingga salah satu faktor pembentukan kristal garam adalah tingkat kejenuhan air.

Tambak Garam dengan Teknologi Ulir Filter (TUF) 

Peningkatan tiap tahunnya pada garam yang menjadi kebutuhan nasional, maka harus ada program yang bisa meningkatkan kualitas dan produktifitas produksi garam. Swasembada garam pun bisa tercapai dan pasar bisa diambil alih jika menerapkan teknologi yang tepat. Penerapan teknologi yang tepat ini harus diaplikasikan oleh setiap pelaku produksi garam.

Lalu dengan cara Teknologi Ulir Filter (TUF) geomembrane, dengan kajian yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPK), dari proses hasil lapangan ditemukan jika peningkatan produktifitas bisa hingga 100% dengan metode TUF Geomembrane ini.

Seperti yang telah dilakukan dibeberapa daerah di Jawa Barat seperti Karawang, Indramayu, Cirebon. Daerah tersebut telah menggunaakan TUF geomembrane HDPE ini, dan terbukti pada awal sebelum penerapan hanya menghasilkan 60-80 ton garam pada sekali panen, dan sekarang garam yang dihasilkan bisa 120-140 ton perhektar.

Proses Ulir Pada Tambak Garam 

Teknologi ulir mempercepat proses penuaan air, jadi kualitas garam lebih baik dan akan lebih cepat pada proses kristalisasi.

Ketitinggian air antara 5-10 cm pada ulir. Lalu dibuat bentuk beberapa petak yang berkelok, agar arus air mengalir secara alami. Proses ini mempercepat proses penguapan disamping bantuan angin dan cahaya matahari.

Wadah filter pada pintu air meja kristal nanti akan diletakkan manganese green dan penyaringan dengan karbon aktif. Dan untuk meminimalisir kotoran dari air laut maka akan dibuat lubang.

Manganese green difungsikan aga bisa menyerap kandungan mangan (Mg) dan kandungan besi (Fe). Karbon aktif yang dibuat dari tempurung kelapa akan dibakar untuk mengikat gas beracun dan mengikat bau. Yang mana batas aman konsumsi untuk garam berkisar <0,01 mg/liter.

Penerapan Geomembran Pada Tambak Garam

Biasanya garam yang dihasilkan itu bercampur tanah dan kotoran karena ada kontak langsung antara tanah dan air laut, tapi dengan penerapan teknologi ini.

Hasilnya akan bersih, air laut yang dikristalkan akan dipisah dengan pelapis geomembrane sebagai bahan penghalang dasar meja (tanah) kristalisasi. Terbukti, peningkatan kualitas pada garam dan harga jualpun akan meningkat dengan teknologi ulir geomembrane pada tambak garam ini.

Dan untuk pemesanan geomembrane, silahkan hubungi admin kami di nomor berikut ini.

https://geosynthetics.com/